Cung-cungan
Ngecung atau ngacung yang kalo dibahasakan mungkin berarti menunjuk, mungki lebih sering diberlakukan buat orang lain. Maksud saya dalam menunjuk secara empiris tentu kita akan lebih sering nunjuk ke orang lain. Kenapa begitu?
Manusia kan lebih gampang lupa, melik ngendong lali kata orang jawa (dahulu), jadi kita lebih inget hal-hal yang nyebelin, nyakitin dan kedaden kang dadi sebab uluhing tangis. bahkan konon saking bebalnya jiwa kita, kadang sesuatu yang mustinya disyukuri kita malah seringnya ndak nyadar.
Saat hampir keserempet mobil ngebut, kita mengimplementasikan rasa syukur kita dengan : “Asuuu kowe! Mentang-mentang punya mobil! Jalan seenaknya, memangnya ini jalan mbahmu apa?”
Ah sudahlah. Lalu, nah lantaran kita lebih cepet menerima rangsangan berupa penderitaan dibanding kenikmatan maka kita menjadi budak pencari kenikmatan. Sesuatu yang (kita rasa) menyakiti kita, kita pikirkan dalam waktu sepersekian detik untuk mencari cara agar rasa sakit itu menjadi milik orang lain.
Misalnya, saya dituduh jadi petugas pajeg yang kaya karena korup. Lalu saya marah, saya lalu ngecung ke tetangga saya yang kaya dengan cara (yang menurut saya) berhianat. Padahal tuduhan korupsi itu bisa jadi kiriman “cermin” dari yang Maha Hidup agar kita senantiasa mawas diri dan lurus. Soal tuduhan kaya itu kan bisa dianggap sebagai doa saja.
Saat istri saya dituduh korup, misalnya. Apa lantas saya harus teriak-teriak kalo kantor bini saya (termasuk bosnya) jauh lebih korupsi? Lalu saya bungkus dengan : “lha saya ini cuman menyampaikan kebenaran kok”. Ha kalo memang menyampaikan kebenaran kok ya kenapa nunggu anggota keluarga saya jadi tersangka lho…
Budaya cung-cungan memang sekarang jadi lain. Kalo dulu jaman sekolah ngecung atau ngacung itu tegak ke atas dengan dada membusung, kini ngecung lebih tegak lurus dan bersifat nuduh.
Ada kawan saya ketawa saat menyaksikan berita tentang anggota DPR suka main perempuan dengan bilang : “Halah.. anggota DPR itu yang ngacung cuman anunya saja…”. Dia (kawan saya itu) tentu lupa desah nikmatnya semalam dengan wanita panggilan langganannya. Atau pura-pura lupa. Lha wong konon kita itu mendapat ulil amri yang merupakan cerminan dari diri kita je! Jadi kalo masyarakat protes pemimpinnya kurang ajar, apa ndak sebaiknya ngaca dulu?
Tapi ya itu… kembali ke ngecung tadi. Sudah jarang yang ngacung kayak jaman SD.
Indonesia memang sudah menjadi negara konotasi. Sehingga kebanyakan yang berlaku adalah konotasi. Yaitu sesuatu tidak dimaksudkan sebagai sesuatu itu sendiri sebagaimana ia adanya. Selalu ada sesuatu utnuk sesuatu. Nyumbang makanan untuk dapat suara dukungan, kunjungan kerja untuk dapat amplopan, dialog untuk dapat pembagian lahan panas yang seimbang.
Lalu anarkisme (dalam demonstrasi) dikonotasikan sebagai perjuangan membela rakyat.
The article has
no responses yet